Rabu, 27 Januari 2010

Demi Cinta Kita pada Sesama.

Kutuliskan SMS yang saya terima ini sesuai harapanya untuk disebarluaskan. Isi SMS itu kurang lebih begini: “Ayo kita buktikan buktikan rasa cinta kita pada sesame, diantaranya dengan saling menyelamatkan dalam berbagai hal yang mungkin tidak disangka bahwa telah terjadi sesuatu pada diri kita atau pada orang lain yang mungkin kelak akan menyebabkan kita tidak selamat. Salah satu fenomena akhir zaman yang jauh-jauh hari sudah diisyarohkan oleh Rosulullah SAW adalah tentang maraknya perzinaan terang-terangan dan kehamilan diluar nikah. Hal ini tidak jadi masalah bagi mereka yang tidak “ngugemi” / mengimani dan terikat oleh hokum-hukum Allah. Padahal dari berbagai segi ( baik social, budaya maupun kejiwaan ) implikasinya sangat serius ( diluar soal dosa besar ), diantaranya adalah anak dari hasil perzianaan itu terputus perwaliannya dengan si “Bapak”, sehingga meski sibapak kemudian menikahi ibu maka tetap saja perwaliannya tidak bisa sambung, sehingga anak tidak berhak atas atas harta waris si “Bapak” dan bapak tidak berhak tidak bisa jadi wali nikah adalah perempuan. Jika si “Bapak” dipaksakan menjadi wali maka pernikahan si anak tidak syah sehingga hubungan suami istri dari anakpun adalah zina juga, sungguh mengerikan. Maka pernikahan dalam keadaan hamil benar-banar harus dicermati. Memang oleh sebagian ulama pernikahan semacam ini “dibolehkan” untuk menutupi aib dan sebagainya asalkan si lelakinya adalah yang menghamilinya. Padahal dalam kitab al Mughni ( 6/184-185 ) dan kitab syarah Bulughul Maram pada Bab iddah wal ihwal istibra : pernikahan seperti itu tidak sah, kalaupun ada ulama yang membolehkan maka pernikahan seperti itu dikategorikan sebagai nikah syubhat, artinya pernikahan berlangsung dengan anggapan BOLEH menurut syareat padahal sesungguhnya TIDAK BOLEH. Itulah makanya si anak tetap dinasabkan pada ibunya. Kita ambil amannya saja dengan menganggap tidak syah nikah disaat hamil. karena hukum syubhat itu sangat dekat dengan haram, maka setelah bayi lahir haruslah segera nikah ulang satu kali lagi. Kita sampaikan masalah seperti ini demi cinta kita pada sesama, salam takdzim.”

Rabu, 13 Januari 2010

Lowongan Kerja Menjadi Da`i....

Makna Ulama dan Da`i Dalam Islam dikenal istilah Ulama dan Da`i. Ulama adalah orang yang berilmu (khususnya ilmu al-qur`an dan al-hadits) dan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan ilmu yang dimilikinya. Sedangkan Da`i yang sering diartikan sebagai juru dakwah, sebenarnya merupakan bentuk isim ( kata benda ) dari kata Da`a, - yadi`u, - Du`a yang artinya "Menyapa". Jadi konsep dakwah yang tepat adalah dengan "menyapa" , bukan mengajak, menyeru apalagi mengejek dan mengancam. Dalam berdakwah Rosulullah SAW selalu mengedepankan akhlak luhur yang lebih bersifat menyapa, dengan menjadikan diri sebagai "model" dari ajaran islam, sehingga orang jadi tersapa, terpesona, lalu dengan penuh kesadaran menyatakan diri menerima ajaran islam. Kesimpulannya : setiap muslim berkesempatan menjadi Da`i jika perilaku hidupnya sesuai dengan risalah agama serta diniatkan untuk "menyapa" Allah dan umat. Demikian kurang lebih pesan singkat yang saya terima untuk yang kesekian kalinya.

Sabtu, 02 Januari 2010

HANYA CAHAYA YANG BISA MENATAP CAHAYA

Beberapa hari setelah menerima SMS I, saya mendapat SMS lagi dari nomor : 085236156xxx. SMS kedua ini bunyinya kurang lebih sebagai berikut : "Ada suatu rumusan dalam ilmu makrifat, hanya cahaya yang bisa menatap cahaya. Cuma hati yang jernih yang sanggup menerima kejernihan. Hanya orang "benar" yang sanggup menerima kebenaran. Sering ada ejekan kepada orang yang baru mampu secara lahir saja dalam menjalankan syareat / ibadah, antara lain begini "Dhohirnya sholat tapi kalau batinnya tidak ikut sholat sama juga bohong, mending tidak usah sholat dulu..." Mestinya tidak begitu, sholat yang seperti ini tidak sama dengan bohong, karena setidaknya sudah menggugurkan kewajiban, sudah tidak fasik, sudah merefleksikan sikap taqwa, meski tentu kadar nilai / pahalanya tidak sama dengan yang batinnya ikut sholat. Allah sendiri yang maha memperhitungkan amal setiap hamba-Nya. Jika mengibaratkan agama adalah ageman / busana maka badan tanpa busana akan hilang harkatnya sebagai manusia. bukan justru beranggapan bahwa sebagus-bagus busana masih lebih bagus yang memakai busana, jadi buat apa busana ? ... Harusnya kalau belum mampu berbusana lengkap jangan lantas merasa mending telanjang.... Seberapa orang mampu memaknai sholat itulah thoreqot (thareqat), seberapa sholat berdampak dalam akhlak itulah hakeqot, dan seberapa sholatnya membentuk perilaku yang benar sesuai dengan irodahNya sebagaimana tertuang dalam al-qur`an dan hadist itulah makrifat. Demikian sms ke 2, wallahu a`lam .....